SLOGAN KIM LUMAJANG

APA KABAR KIM LUMAJANG? MAJU TERUS, TANPA PAMRIH UNTUK LUMAJANG..!!!

BAKTI SOSIAL KIM KUNIR MAS BERSAMA SMK MIFTAHUL ISLAM

Kunir (Sabtu, 19 Maret 2016) KIM KUNIR MAS bekerja sama dengan KIM SINAR HARAPAN dan KLINIK MATA "TRITYA" Surabaya mengadakan bakti sosial pengobatan mata gratis yang ditempatkan di SMK Miftahul Islam Kunir.

Perkebunan Buah Naga Di Kunir

Suasanan Panen raya Kebun Buah Naga di Desa Kabuaran Kecamatan Kunir Kab. Lumajang.

BATIK KHAS KEC. KUNIR KAB. LUMAJANG

Batik Khas Kunir yang dihasilkan oleh NANIA MAKARTI JAYA yang di kelolah oleh Bpk. Munir sekarang ini sangat terkenal di kabupaten Lumajang.

ARTEFAK KUDA KENCAK SITUS KEDUNGMORO

Ditemukan relief di Desa Kedungmoro Kec. Kunir Kab. Lumajang tepatnya di lahan pembuatan batu bata. Lahan tersebut milik Bapak Tirsam di Dusun Kedungsari Desa Kedungmoro disewakan kepada Bapak Mulyono selama 4 tahun untuk pembuatan batu bata. Awal mula ditemukan oleh Bapak Supri pada hari kamis 10 oktober 2013 sekitar jam 10 pagi

Produk Unggulan Kripik Pisang Kulit (KPK)

KIM KUNIR MAS Kec. Kunir untuk membuat kripik pisang dengan kulitnya.

Tampilkan postingan dengan label Nanang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nanang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2018

WARNA WARNI RAMADHAN

( peserta warna-warni )
Sudah menjadi tradisi di kabupaten Lumajang khususnya di desa Sukosari kecamatan Kunir, jika ramadhan tiba selalu ada kegiatan keliling desa yang dilakukan oleh beberapa warga sambil membawa alat musik atau bunyi-bunyian. Hal ini dilakukan mulai pukul jam 01.00 WIB sampai dengan pukul 03.30 WIB dengan maksud untuk membangunkan umat muslim yang berpuasa di bulan ramadhan agar segera terbangun dari tidurnya dan segera mempersiapkan bersantap saur. 
Banyak ragam alat yang digunakan para warga untuk sekedar keliling desa disetiap tengah malam dibulan ramadhan. Seiring perkembangan jenis alat musik, semakin banyak pula jenis alat musik yang digunakan untuk berkeliling desa. Mulai dari hanya memakai alat transportasi sepeda motor yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga menarik perhatian sampai memakai alat transportasi roda 4 ( pick up). 
Alat musiknya juga bermacam macam jenis yang digunakan. Seperti yang kami lihat, sekitar minggu pertama bulan ramadhan kemarin, para warga yang berkeliling tengah malam itu hanya menggunakan sepeda motor yang bagian belakang di sambung dengan menggunakan alat transportasi tradisional roda 2 ( gledekan ).
( peserta warna-warni )
Kemudian gledekan tersebut pada bagian belakang di ikatkan dengan seng atau orang jawa bilang "gembreng" yang di kaitkan dengan tali agak panjang sehingga gembreng tersebut menyentuh tanah atau aspal. Apabila berjalan sudah dapat dipastikan suara yang ditimbulkan oleh gembreng yang bergesekan dengan aspal, cukup untuk membangunakan seseorang yang tertidur. 
Pada minggu kedua dibulan ramadhan, para warga berkeliling dengan menggunakan pick up, alat musik yang diangkut seperangkat sound system dengan memainkan vcd player lagu lagu masa kini. Di hari berikutnya, masih tetap menggunakan pick up sebagai alat angkut, namun yang di atasnya lain lagi, seperangkat alat musik tradisional seni reog yang dimiliki oleh salah satu warga dilingkungan kami
Memang murah dan meriah, tapi kami berpesan, jangan lupa keselatan di jalan harus tetap diperhatikan. Karena tidak sedikit kejadian kecelakaan lalu lintas karena tidak memperhatikan keselamatan bersama. 

Rabu, 25 April 2018

Pengrajin Tampar Desa sukosari

proses pembuatan tampar

Kunir, 22 April 2018 Ditengah-tengah semakin pesatnya perkembangan perindustrian yang canggih dan modern, di desa Sukosari kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang ada sekelompok masyarakat yang masih bertahan dengan memproduksi tampar tradisional secara manual. Mungkin hanya sekitar 10 KK (kepala Keluarga) yang masih bertahan memproduksi tampar trasional sampai saat ini.
Adapun yang diproduksi oleh para perajin ini sebagian besar adalah tampar untuk keperluan tali kendali (jawa:tampar keluan) untuk hewan ternak khususnya sapi dan kerbau. Jarang mereka memproduksi tampar yang berukuran panjang, karena tali kendali hewan ternak sapi dan kerbau umumnya hanya sekitar 1 sampai 10 meter dengan berbagai macam ukuran dan umur hewan ternak yang akan dipasangi tali kendali tersebut.
Pada umumnya bahan mentah yang dipakai untuk membuat tampar tersebut adalah tali plastik rafia. Menurut salah satu perajin yang kami temui, proses pembuatan tali tampar ini tidaklah mudah, harus memiliki ketrampilan dan kesabaran tersendiri. Untuk 1 kilo tali plastik rafia bisa menjadi 5 sampai 6 pasang tampar, karena ukuran dan panjang yang di produksi tidak sama sehingga menentukan jumlah hasil produksi.
Untuk pemasaran tampar tradisional hasil produksi para perajin ini hanya sebatas wilayah kabupaten Lumajang. Harganya bervariasi menurut besar kecilnya 1 pasang tali kendali tersebut. Sebenarnya para pedagang ini berharap bisa memasarkan hasil kerajinannya bisa menembus ke luar kabupaten Lumajang. Namun karena keterbatan hasil produksi dan terbatasnya masyarakat yang memelihara hewan ternak khususnya sapi dan kerbau membuat para perajin ini tidak berani memproduksi secara besar - besaran.
Disinilah mungkin peran pemerintah baik pemerintah desa sampai pemerintah kabupaten Lumajang melalui dinas yang terkait diharapkan mampu mendongkrak para perajin tampar tradisional yang masih tetap bertahan di desa Sukosari ini. Sehingga para perajin tampar trasisional ini bisa meningkatkan hasil produksinya yang secara otomatis akan meningkatkan penghasilan mereka.Nanang






Rabu, 28 Maret 2018

Kesenian Reog Desa Sukosari

Kesenian Reog

Kunir, 28 Maret 2018. Kata yang sudah tidak asing lagi bagi warga Lumajang, khususnya Lumajang bagian selatan. Sudah banyak para pejuang kebudayaan yang masih exis untuk melestarikan kebudayaan daerah khususnya seni REOG yang semakin hari semakin terlindas dan tersisihkan oleh modernisasi. Ada yang menarik di desa Sukosari kecamatan kunir, terutama di Dusun Sukodadi, ada dua paguyuban seni Reog yang masih exis, paguyuban seni Reog DAMAR JINGGO dan SINGO ROJOWONO.

Adalah SEFRIN yang usianya baru menginjak 22 tahun, warga Dusun Sukodadi RT 10 RW 3 Desa Sukosari Kecamatan Kunir kabupaten Lumajang, masih muda, lajang, yang saat ini bertekad melestarikan kebudayaan seni REOG yang baru dua bulan usia paguyuban seni Reog yang dipimpinnya. Menurutnya, setelah bermusyawarah dengan para anggota dan keluarga besar paguyuban reognya, ia memberi nama Paguyuban Seni Reog SINGO ROJOWONO. Apa yang menjadi motifasinya sehingga dia (Seprin) diusianya yang masih sangat belia sudah bertekad untuk menjadi Punggawa (baca: juragan Reog) paguyuban Reog.

Menurut Pak Ketang (orang tua Sefrin) yang sehari harinya bekerja sebagai petani, dia tidak menyangka kalau anak pertamanya begitu sangat sayang dan cinta kepada kesenian Reog, mulai kecil memang suka melihat Reog pada acara hajatan di desanya,  hingga menginjak remaja anak pertama dari dua bersaudara ini bergabung kepada paguyuban seni Reog di Kecamatan Tempeh. Hingga keinginannya untuk mendirikan sendiri paguyuban seni Reog di dukung sepenuhnya oleh Pak Ketang selaku ketua RT 10 sekaligus orang tua Sefrin dan itu di buktikan dengan terdaftarnya nama Paguyuban Seni Reog SINGO ROJOWONO di Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang atas nama KETANG.

Menurut Sefrin, dia sudah bertekad untuk melestarikan kebudayaan Seni Reog yang di pimpinnya, meskipun tidak mudah untuk melaksanakan niatnya, namun dia optimis bisa mengambil hati penggemarnya karena paguyuban yang dipimpinnya ini mayoritas anggotanya masih seusianya dan berjanji akan menyuguhkan hiburan seni REOG yang lebih modern dan atraktif. Dia akan banyak belajar dari paguyuban seni Reog DAMAR JINGGO yang sudah bertahun tahun melanglang buana di Kabupaten Lumajang maupun diluar Kabupaten Lumajang. Namun demikian, dia berharap mendapat perhatian khusus dari pemerintah kabupaten Lumajang khususnya dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang untuk lebih memperhatikan nasib seniman seniman muda khususnya pegiat seni Reog yang tersebar di seluruh Kabupaten Lumajang. Semangat dan bravo seni Reog Kabupaten Lumajang. (Nanang)

Jumat, 09 Februari 2018

Lembaga Kursus Dan Pelatihan Otomotif LKP Anugerah Lumajang

Foto Peserta Pelatihan

Kunir, 09 Februari 2018. Di desa Sukosari kec. Kunir sejak tahun 2009 telah berdiri Lembaga Kursus yang bergerak dalam bidang otomotif khususnya tekhnisi seped motor yang memiliki potensi yang sangat besar. Lembaga Kursus dan Pelatihan LKP Anugerah Lumajang dengan alamat LKP Anugerah Lumajang  Jl. A. Yani Desa Sukosari Kecamatan Kunir merupakan satu-satunya lembaga yang sudah menjadi tempat uji kompetensi Nasional di wilayah timur dari Propinsi Jatim dengan wiayah kerja yang mewakili kota Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi.
Kegiatan praktik peserta

pembekalan materi 


Bapak Wijen pemilik LKP Anugerah
Selain pendidikan formal yang penuh dinamika, ternyata pendidikan non formal juga mengikuti, kini Lumajang menjadi salah satu tujuan mendapatkan Sertifikasi Kompetensi Nasional Lembaga Kursus Dan Pelatihan LKP Anugerah Lumajang mempunyai perijinan  Dinas Pendidikan kab. Lumajang  no. Legalitas  411.3414427432009 dan Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi kab. Lumajang. no Legalitas 5632256427.402011

LKP Anugerah Lumajang menjadi lembaga terbaik yang siap melayani masyarakat dalam mendapatkan bekal keterampilan dan pengetahuan profesional khususnya di bidang otomotif, mencetak tenaga otomotif yang handal dan siap kerja  secara profesional, sehingga dapat membantu masyarakat terutama generasi muda usia produktif untuk mengembangkan bakat dan ketrampilan di bidang otomotif. (Nanang)